
Pagi-pagi buta, kakek Sun sambil membawa hasil kebunnya berangkat ke rumah putri dan menantunya di kota. Alasannya sih jenguk putrinya, tapi sebenarnya beliau ingin meminjam uang. Sesampai di rumah putrinya di kota, menantunya menyambut hangat kakek Sun sambil membantu mengambil barangnya, didalam putrinya sudah memasak mie sapi favoritnya.

Setelah menghabiskan mie, menantunya berniat mengajak beliau jalan-jalan ke tempat wisata. Kakek Sun ingin sekali pergi jalan-jalan, namun tujuannya kali ini adalah meminjam uang, beliau takut pinjam uang akan merusak suasana saat berjalan-jalan. Karena itu ajakan menantunya pun ditolak.
Menantunya kemudian mengajak lagi kakek Sun makan di sebuah restoran baru di pusat kota, beliau pun menolaknya dengan susah payah, beralasan bahwa hasil kebun yang ia bawa sangat langka di kota, harus dimakan secepatnya.
Kakek Sun karena tidak enak hati akhirnya bergegas ingin pulang. Bagaimanapun si menantu menahannya, kakek Sun tetap berkeras hati ingin pulang.

Sebelum pulang, karena cuaca dingin dan kakek Sun berpakaian tipis, putrinya memberikannya sebuah jaket baru berwarna hitam. Sesampainya di stasiun, menantunya mengantar beliau sampai naik ke gerbong kereta. Didalam kereta, kakek Sun kecewa dan hampir saja menampar dirinya sendiri. Ia sudah berjanji ke istrinya kali ini akan meminjam uang, tapi dirinya tak berani membuka mulut. Bagaimana ini?

Sesampainya di rumah, kakek Sun menelepon putrinya memberitahu bahwa ia telah sampai dengan selamat. Menantunya di telepon tiba-tiba berkata,"Pa, di saku bagian kanan ada kantong kecil ber-retsleting, di dalam ada buku tabungan, passwordnya adalah tanggal ulang tahun papa. Ada sedikit uang di dalamnya."
"Tut tut tut…" Kakek Sun belum sempat menjawab, telepon pun dimatikan. Kakek Sun lalu memeriksa saku mantelnya. Ternyata benar ada buku tabungan bersaldo 200.000 yuan. Di dalamnya terselip surat dari menantunya bertuliskan : "Papa, ini ada sedikit uang yang bisa dipakai, dulu saat mau menikah dengan putrimu, saya tak mengeluarkan uang sepeserpun, mas kawin juga tidak ada. Kalian berdua tidak menolakku bahkan meminjamkan uang 20.000 untuk modalku berumah-tangga. Kebaikan kalian tak akan pernah kulupakan. Akhir-akhir ini kami tidak bisa pulang, kami tahu kalian lagi butuh uang, pakailah uang 200.000 ini. Kalau tidak cukup jangan sungkan meminjam dari kami."
Setelah membaca surat itu, kakek Sun diam-diam menghapus air matanya.